Adnan Nota : Aktualisasikan Syiar Agama Selama Tidak Merusak Idiologi Berbangsa dan Bernegara

0
367
Ket. Gambar : Kakan (Kemenag) Majene di dampingi Plh. Kasi Bimas Islam A. Amrullah Aqil hadiri silaturrahmi dan kelarifikasi kaitan kegiatan Aliansi Umat Islam Bersatu, di gagas oleh Ka Polres Majene AKBP Asri Effendy di aula polres Majene,, Jumat 14/9/2018.
Ket. Gambar : Kakan (Kemenag) Majene di dampingi Plh. Kasi Bimas Islam A. Amrullah Aqil hadiri silaturrahmi dan kelarifikasi kaitan kegiatan Aliansi Umat Islam Bersatu, di gagas oleh Ka Polres Majene AKBP Asri Effendy di aula polres Majene,, Jumat 14/9/2018.( Ft. MH).

Majene (Inmas Majene) –.  Kakan (Kemenag) Majene H. Adnan Nota hadiri sekaligus memberikan sambutan pada acara silaturrahmi dan kelarifikasi kelompok Aliansi Umat Islam Bersatu yang berpusat di Desa Lombong, Kec. Malunda Kab. Majene,  di selenggarakan oleh Kepolisian Resort ( Polres) Majene bertempat di  aula Polres Majene, Jumat,  14/9/2018.

Kegiatan tersebut disamping di hadiri oleh Kepala Kepolisian Resort (Polres) Majene AKBP Asri Effendy dan  Kepala Badan Kesatuan Bangsa Pemkab. Majene              H. Rustam Rauf juga di hadiri Kepala (Kemenag) Majene H. Adnan Nota, Unsur MUI, Masfar Ahmad, Plh. Kasi Bimas Islam A. Amrullah Aqil, Kepala Desa Lombog Kec. Malunda Suardi, jajaran polres Mjn serta tokoh masyarakat di wilayah desa Lombong Kec. Malunda kab. Majene.

Asri Effendy, Kepala Kepolisian Resort (Polres) Majene sekaligus sebagai penggagas kegiatan ini menyampaikan bahwa tujuan diselenggarakannya pertemuan ini untuk mengkelarifikasi adanya laporan  masyarakat terkait kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh Aliansi Umat Islam Bersatu yang berpusat di desa Lombang Kec. Malunda Kab. Majene dengan memobilisasi massa dari berbagai penjuru dalam wilayah Kab. Majene bahkan ada yang berasal dari kabupatan lain yakni Kab. Mamuju dan Mateng dan  disinyalir    berbau Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) karena memajang bendera yang merupakan identitas organisasi terlarang yang sebelumnya telah di bubarkan pemerintah karena mensyiarkan paham yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Kepala Kantor (Kemenag) Majene H. Adnan Nota pada kesempatan tersebut menyampaikan  bahwa negara ini menjamin masyarakatnya untuk mengaktualisasikan ajaran agama melalui ritual dan syiar  sesuai dengan keyakinan yang dianutnya sejauh tidak merusak idiologi dalam kerangka  kehidupan beragama dan bernegara yang telah tertata dengan baik. Ungkap beliau.

Adnan Nota mengajak kelompok yang mengatas namakan dirinya Aliansi Umat Islam Bersatu agar tidak memunculkan  lambang serta paham atau ajaran    yang yang memberikan kesan negatif yang berpotensi  memecah belah umat sabaliknya himbau beliau mari kita satukan  persefsi  guna mendahulukan serta mengutamakan persatuan dan kesatuan baik sebagai umat islam maupun sebagai warga nagera dan bersama sama menjaga keutuhan NKRI, Pinta Adnan.

Amrullah Aqil selaku Plh. Kasi Bimas Islam hadir mendampingi kakan (kemenag) Majene menyampaikan bahwa dalam suatu organisasi yang dapat dilihat dan dinilai adalah yang zahir (nampak). Dengan menampilkan panji-panji yang menyerupai identitas HTI mengundang kecurigaan. olehnya itu kata beliau janganlah menampakkan sesuatu yang mengundang kecurigaan apa lagi dapat menimbulkan mufradah (penilaian negatif yang menimbulkan kerusakan) hilangkan panji-panji tersebut, tegas beliau.

Masfar Ahmad salah satu pengurus MUI Kab. Majene mengapresiasi pertemuan yang di gagas oleh Ka. Polres Majene dalam rangra menjaga kondusipnya kehidupan bermasyarakat khususnya di Kab. Majene.

Dikatakan bahwa tugas dakwa atau syiar yang dilaksanakan  hendaknya menyejukkan dan tidak menimbulkan perpecahan diantara umat olehnya itu kata beliau dakwa yang disampaikan tersebut tidak bertentangan dasar negara, seirama dengan pembangunan nasional serta dapat menjaga kerukunan baik interen, ekteren umat beragama dan,  umat beragama dengan pemerintah.

Sebelumnya Ketua pelaksana kegitan, Syahrul yang juga ketua Aliansi Umat Islam Bersatu Prov. Sulawesi Barat menyampaikan bahwa  pertemuan yang di laksanakan pada hari selasa, 11/9/2018 di gedung serbaguna kantor desa Lombing, Kec. Malunda   dalam rangka memperingati Tahun baru Islam 1 Muharram 1440 M dalam bentuk kajian keislaman, tidak ada maksud lain   kacuali menyampaikan syiar Islam, kalau ada kesalahan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut  kami bersedia dibina, pinta Asrul.

Senada dengan hal tersebut  Idham Siruna yang juga menjadi  pemateri pada acara kajian tersebut membenarkan bahwa tdak ada satupun pembahasan yang mengarah kepada sistem Khilafah apalagi menggati sistim pemerintahan, kami kata Idham  tetap pada idiologi yang kita anut selama ini yakni  berpegang pada empat pilar kebangsaan yakni Pancaila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. (Achmad Dondang).

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here